Di Tengah Keramaian | Trending Topik dan Pendirian
Di waktu ini (ketika saya meulis kata-kata ini) tengah
terjadi keributan di media sosial twitter. Mereka mulai mencaci sana sini,
membela yang mereka anggap benar. Dengan fokus dan terarah mereka memberikan
pencerahan. Kanyataannya, melihat sesuatu hal dari satu sudut pandang bukanlah
kebijaksanaan.
Kenyataannya saya tidak tahu apapun. Saya masih seorang pengguna
media sosial. Mengamati orang lain, negara, dan dunia bergerak. Akun facebook
saya masih berisi vidio masak-masak milik orang asing, instagram saya penuh
dengan informasi, lebih beragam dari facebook. Lalu twitter saya berisi
topik-topik yang sama, yang terus-terusan dibahas.
Satu akun membicarakan “itu”. Akun yang lain meretweet,
mengomentari, saling berhubungan. Hingga akhirnya merambah lebih luas. Semua
orang mulai bicara, kemudian trending topik! Seruan-seruan mereka terdengar
menarik. Menggebu dan menyebarkan fakta. Lalu atas ketidaksukaan saya terhadap
konflik, saya mulai menelaah.
Saya tidak memfollow akun yang sama untuk tiga media sosial.
Alhasil, yang saya temukan adalah perbedaan yang besar.
Vidio masak-masak di akun facebook saya masih di-like dan
dibagikan 2000-5000-an orang. Lalu vidio itu di-like lagi oleh pengguna yang membagikan,
lalu kemungkinan besar dibagikan lagi, di-like lagi, begitu seterusnya. Jika
seluruh like di jumlahkan, tentu lebih banyak dari 2000-5000-an orang pertama.
Ibu guru saya masih sibuk mengiklankan vidio youtubenya,
teman-teman saya asik dengan game online, akun-akun pemerintah sibuk membagikan
kegiatan mereka. Semua hal menjadi terpampang, semua orang tahu, tidak ada
rahasia. Saya tahu apa yang terjadi diluar sana.
Lalu apa artinya keributan di akun twitter saya? Ternyata cuitan mereka tak ada artinya bagi banyak orang diluar sana. Mereka terlihat sibuk dengan diri mereka, di mata saya, lalu bagi orang lain di luar sana mereka tak ayal seperti diri mereka sendiri, tengah sibuk dengan dunia mereka, bedanya mereka punya banyak kawan dengan kesibukan yang sama.
Saya meilhat mereka tengah menyebarkan topik perbincangan
mereka pada dunia. Nyatanya, ibu guru saya sudah selesai mengedit vidio
youtubenya, creator komik di instagram sudah selesai membuat komik untuk dibagikan,
akun-akun pemerintah tetap memamerkan agenda negara.
Tiba-tiba dunia saya menjadi senyap. Ah, tidak ada bedanya
saya bicara sekeras apapun. Toh, yang peduli hanya segelintir orang.
Orang-orang yang baik tetap baik, orang jahat tetap jahat, itu yang dipikirkan
oleh banyak orang. Tapi melihat keramaian di akun media sosial itu, saya kira
berlebihan jika sampai merusak pendirian kita.
Bila hanya dengan beberapa cuitan orang, kita berubah pikiran
menjadi baik (menurut kita) belum tentu baik kenyataannya. Jika keramaian itu
memberikan pandangan baru yang luar biasa keren, saya kira tidak pantas kita
langsung percaya. Karena masih ada dua keramaian di akun media sosial yang
lain.
Orang-orang boleh berpendapat, bicara sepuas mereka, tapi
satu hal yang penting adalah tidak goyah. Hanya karena secuil dari dunia kita
menjadi goyah? Semudah itu? Hal mengerikannya adalah menjadi pembenci. Ya,
bukankah mengerikan hidup dipenuhi kebencian? Tidak ada ketenangan dan kepuasan, mengerikan
bukan?
Saat ini saya sadar bahwa pendirian adalah hal yang penting.
Kita boleh ikut membuat cuitan yang tengah trending, kita boleh membela
keadilan, kita boleh mencintai apa yang kita cintai. Tapi jika menyangkut hal
berupa keramaian di kepingan dunia, lalu pendirian kita goyah, itu terlihat
pengecut.
Saya rasa sangat salah jika kita memilih sudut pandang yang
baru tapi begitu sempit. Dunia ini luas, maka sudut pandang yang luas
dibutuhkan. Agar tak salah melihat, membutakan diri dengan apa yang kita anggap
benar.
Jangan sampai dengan trending topik, yang bertahan tak sampai
satu tahun, pendirian kita berubah. Memang bisa muncul lagi di tahun yang akan
datang, tapi apa seterusnya akan terus seperti itu? Lalu jika ada sudut pandang
baru, yang lebih keren, kita akan mengubah pendirian kita?
Kita boleh membela yang kita cintai, tapi apa itu berarti
kita membenci? Tidak, jika kita memang benar maka tujuan pembelaan kita bukan
untuk membenci, tapi untuk meluruskan, sebab kita peduli.
Komentar
Posting Komentar